Beer ‘Macet’

‘Udah gak bermanfaat, nyusahin orang lagi!’

Astagfirullah, aku sedang puasa! Baru sadar kalau tadi sempat mengumpat dalam hati.

Di Samarinda cuman ada 1 jembatan penghubung antara Samarinda kota dengan Samarinda Seberang. Tadi pagi Mamahnya Ja’far minta diantarin ke Samarinda —kota—, rutinitas hari Senin buat setor uang. Berangkat dari rumah —Samarinda Seberang—, hendak menyeberang melewati Jembatan Mahakam, gak taunya macet sepanjang 2 KM lebih dari titik kemacetan dari berbagai arah jalan. Udara udah mulai panas, bau asap mobil, bunyi klakson mobil dan motor secara bergantian dan macam-macam hal tidak nyaman sama sekali.

Dalam hati bertanya :
“Ada apa ya? Kayaknya gawat banget?”. Gas-rem, gas-rem, pegal juga tangan. Tangan kanan pegang rem depan, kiri pegang kopling. Si Ja’far udah mulai merasa gak betah di tengah-tengah macet, gelisah sana-sini. Ketika kendaraanku mulai maju, kemudian terhenti di samping mobil truk, eh…si Ja’far miring, aku mulai panik. Kupikir jangan-jangan anakku hendak muntah, ternyata mau memegang truk di samping kiri kendaraanku. Aku jadi tertawa, rupanya dia ingat mobil-mobilan truknya di rumah.

Akhirnya jalan sudah mulai leluasa, sedikit demi sedikit sudah lancar jalannya. Sampai akhirnya mendekati di titik kemacetan, ternyata biang keladinya mobil sejenis Pick-Up merk Panther yang membawa penuh muatan Beer merk Pilsener —gak tau merk sebenarnya, soalnya lihat sekilas tulisan di box kartonnya—, ban belakangnya pecah, kemungkinan kelebihan beban. Kulihat sudah ada petugas DLLAJ mengatur lalu lintas di sepanjang Jembatan Mahakam.
Wah…bener-bener dah, aku pikir dibulan puasa ini, yang kayak semacam beer-beer pada ‘puasa’, nyatanya enggak.

Ternyata, beer selain gak ada manfaatnya, ternyata bisa bikin macet juga. Hehehe!