‘Indonesia Raya’ Dikala Sholat Jum’at

Hari Jum’at kemarin -28 September 2007-, aku akan melaksanakan sholat Jum’at di masjid al-Azhar di daerah lingkungan tempat kerjaku. Tiba di masjid, tampak para jamaah belum memenuhi masjid tersebut. Kuperhatikan, masih saja ada jamaah yang sedang asyik bercengkerama, bercerita dan sebagainya dengan kerabatnya.

Setelah berwudhu, aku langsung melakukan sholat sunnah 2 rakaat. Selesai sholat sunnah, kutbah dimulai. Masjid mulai dipenuhi oleh puluhan (mungkin sudah mencapai ratusan) oleh jamaah Jum’at. Dengan penuh hikmat jemaah menyimak kutbah, walaupun ada beberapa jamaah yang terlihat mengantuk dan berkali-kali menguap.

Iqamah dikumandangkan, saatnya sholat Jum’at. Para jamaah mulai berdiri, berlomba menempati shaf-shaf di depannya yang masih kosong.

Rakaat pertama, aku berusaha dengan khusyuk melaksakannya. Tiba rakaat kedua, di tengah-tengah surat Al-Fatihah, terdengar sebuah lagu yang sangat aku kenal. Tetapi kuabaikan pikiranku untuk mengenali lagu tersebut, agar konsentrasiku tidak buyar. Tetapi, makin-lama makin terdengar nyaring lagu tersebut. Akhirnya membuyarkan konsentrasi ini. Sangat pasti bahwa bukan aku saja yang terganggu, seluruh jamaah yang mendengarkan pasti akan kehilangan konsentrasi olehnya.

Diantara konsentrasiku yang buyar ini, dapat kukenali lagu tersebut. Rupanya berasal dari handphone salah satu jamaah, dengan nada lagu Indonesia Raya. Si Fulan -pemilik handphone tersebut, karena tidak tahu namanya, disebutkan si Fulan saja- tidak ada usaha untuk menghentikan suara tersebut, atau setidaknya men-nonaktif-kan handphone-nya, karena mungkin takut akan membatalkan sholatnya. Padahal, dengan melakukan gerakan seperti mematikan handphone agar tidak ada yang menghubungi sehingga tidak timbul suara yang mengganggu kekhusyukan sholat, tidak akan membatalkan sholat seseorang. Dalam hadits riwayat Ahmad, “Dari Aisyah diceritakan bahwa Aisyah ra. minta dibukakan pintu, sedangkan Rasulullah SAW sedang shalat, kemudian beliau -Rasulullah- berjalan membukakan pintu hingga terbuka.

Sangat sering sekali aku mengalami kejadian tersebut, hampir di beberapa masjid yang pernah ku datangi terjadi seperti itu. Hampir sama dengan pengalaman diatas. Tidak ada usaha dari beberapa jamaah untuk men-nonaktif-kan perangkat-perangkat yang menimbulkan suara.

Ironis sekali memang. Dikala kita menghadap pemimpin kita, atasan, acara meeting dan sebagainya, kita dengan sangat hati-hatinya dan perhatian untuk tidak terganggu oleh sesuatu hal apapun. Tetapi disaat kita bermunajat kepada-Nya, kita lupa, lalai, kurang perhatian dan ceroboh.

Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa orang yang lalai.